Rabu, 14 November 2007

Teruntuk Para Calon Suami


Beberapa hal yang perlu diketahui oleh para calon suami mengenai kriteria-kriteria utama dari seorang calon istri sebelum kita menjadikannya sebagai bidadari dalam rumah tangga kita. kriteria-kriteria ini diambil dari kajian Ustadz Ahmad Sabiq dengan judul Syarat-Syarat Menikah. Kriteria-kriteria Utama tersebut antara lain adalah :


1. Memilih seorang calon istri yang sholehah. Dimana Rosullullah bersabda bahwa seorang wanita dinikahi karena ada 4 hal yang ada pada dirinya, yaitu karena kecantikannya, karena keturunannya, karena hartanya dan yang terakhir adalah karena agamanya. Dalam akhir khadits tersebut Rosullullah bersabda bahwasanya pilihlah seorang wanita yang mempunyai agama yang bagus karena apabila kita memilih wanita yang mempunyai agama yang baik maka kelak kita akan bahagia atu beruntung. Kenapa kita akan beruntung….?karena dalam dunia pernikahan merupakan suatu dunia yang harus memadukan dua hal yang saling berbeda dimana dalam sebuah rumah tangga pastilah tidak akan terhindar dari adanya sebuah perselisihan antara suami istri. Pada waktu terjadinya perselisihan tersebut maka kecantikan, harta maupun nasab keturunan tidak akan mampu mengatasi hal tersebut. Hanyalah agama (sholeh/sholehah) seorang suami maupun istrilah yang mampu mengatasi perselisihan yang ada pada suatu rumah tangga. Sehingga Rosullullah benar2 menekankan bahwasanya seorang wanita dinikahi yang utama adalah karena agamanya. Rosulullah menyebutkan beberapa cirri-ciri dari wanita yang sholihah antara lain :
:: Seorang istri yang sholehah adalah seorang wanita yang mampu membagahagiakan atau membuat seorang suami senang waktu melihat istrinya, mentaati suaminya apabila diperintah selama tidak melanggar hokum syar’I, tidak menyelisihi suami apabila suami benci terhadap suatu masalah.


2. Menikah dengan seorang gadis bukan janda, Rosulullah bmenyarankan kepada kita untuk menikah dengan seorang gadis, karena seorang gadis mulutnya lebih jernih dan tutur katanya lebih terjaga dalam artian dia belum pernah gunakan mulutnya untuk bertengkar dengan suami yang lain. Wanita yang masih gadis biasanya rahimnya lebih cepat untuk bias hamil. Dan biasanya seorang gadis lebih ridho mendapatkan sebuah nafkah yang sedikit karena masih menggebunya sebuah rasa cinta. seorang gadis akan lebih suka bermain-main dengan suaminya yang perjaka sehingga hal tersebut akan menambah romantisnya rumah tangga pada awl-awal pernikahan.


3. Memilih seorang wanita yang mampu memberikan banyak anak. Seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah bahwasanya ia ingin menikahi seorang gadis yang cantik, kaya, dari keturunan bangsawan namun ia mandul, maka bersabdalah Rosulullah janganlah kamu menikah dengan wanita semacam itu, namun menikahlah kamu dengan seorang yang kasih sayang dan mau melahirkan banyak anak karena Rosulullah berbangga dengan banyaknya umatnya nanti pada hari kiamat.


4. Memilih seorang wanita yang penyayang, karena hal itu akan mempengaruhi dalam berpikir dan mempengaruhi sifat seorang anak.


5. Pilihlah wanita dari garis keturunan yang baik-baik. Janganlah menikah dengan seorang gadis dari keturunan orang yang jahat (koruptor, perampok atau sejenisnya). Barangkali wanita itu tidak mempunyai sifat yang sama dengan orangtunya yang jahat, namun sifat yang ada pada seseorang akan turun pada cucu-cucu kita kelak, hal ini mungkin saja bisa terjadi.


6. Apabila kita telah mendapatkan seorang wanita yang sholehah maka criteria apalagi yang harus kita pilih….? Menut Ibnu Qoyyim Al-Jauzy dan Syaikh ‘Utsaimin bahwasanya apabila kita telah memperoleh criteria seorang wanita yang mempunya agama yang baik maka criteria selanjutnya adalah kecantikannya. Kenapa…? Hal ini adalah fitrah. Menurut Syaikh ‘Utasimin bahwa suatu agama akan menyelamatkan akhirat kita, akhirat anak keturunan kita. Sedangkan kecantkan akan menjaga kita dari pandangan wanita lain, karena kita telah memiliki wanita yang cantik dalam kehidupan kita maka untuk apalagi kita menoleh pada wanita yang lain….


Semoga ke enam criteria ini dapat bermanfaat dan menjadi sebuah pertimbangan bagi ikhwan-ikhwan yang akhir-akhir ini mempunyai keinginan untuk segera menikah. Insya Allah topic yang tidak kalah serunya akan segera tampil…


Eh gambarnya bukan promosi lho ya....


Wassalamu’alaikum Warohmatullahi wabarokaatuh…

Selasa, 13 November 2007

Sahabat.....

Sahabat adalah hadiah yang kamu berikan pada dirimu sendiri

Hak-hak dalam bersahabat
1. Mau mengingatkan jika error
2. Mau nolong kalo dia butuh
3. Mau menghibur kalo dia sedih
4. Mau memaafkan kalo dia sedih
5. Cinta dan Marah karena Allah
6.Cinta pada dia apa adanya
Mendengarkan keluhan dengan sabar walaupun keluahan itu tidak berarti adalah kewajiban persahabatan
Janganlah kamu berjalan didepanku,
Mungkin aku tidak bisa mengikutimu.
Janganlah kamu berjalan dibelakangku,
Mungkin aku tidak bisa memimpinmu.
Namun berjalanlah seiring denganku, dan jadilah sahabat dan saudaraku



Tips N Trik dalam persahabatan


:: Katakan kalo kamu mencintainya (ga usah malu...karena Rosulullah juga mencontohkanya)
:: Berilah ia hadiah yang ia sukai
:: Kenali kesukaanya dan hindari ketidaksukaanya
:: Menghibur dia saat sedih
:: Kamu lebih banyak memberi
:: Kamu lebih banyak mendengar
:: Menjaga jarak walaupun sebentar
:: Selalu khusnudzon dan jujurlah pada Dia

Diambil dari buku Hadiah dari seorang sahabat..

Minggu, 11 November 2007

Teruntuk Bidadari


Entah kenapa hari ini ana pengen menulis atau tepatnya menyalin sebuah puisi yang ana ambil dari sebuah Novel yang pernah ana baca.


Bidadariku,

Namamu tak terukir

Dalam catatan harianku

Asal usulmu tak hadir

Dalam diskusi kehidupanku

Wajah wujudmu tak telukis

Dalam sketsa mimpi-mimpiku

Indah suaramu tak terekam

Dalam pita batinku

Namun kau hidup mengaliri

Pori-pori cinta dan semangatku

Sebab

Kau adalah hadiah agung

Dari Tuhan

Untukku

Bidadariku

Perumpamaan Aqidah Yang Kokoh

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : “ Barangsiapa ingin membuat bangunan yang tinggi menjulang maka dia harus mengokohkan pondasinya, membuat dengan tepat serta memperhatikan benar-benar kekuatannya. Karena sesungguhnya bangunan yang tinggi butuh pondasi kuat dan kokoh. Amal perbuatan serta derajat kemuliaan manusia adalah sebuah bangunan sedangkan pondasinya adalah iman”.
Asas agama islam menurut Ibnul Qoyyim Rahimahullah terdiri atas 2 yaitu :
1. Mengenal Allah, perintah-Nya, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya dengan benar.
2. Memurnikan ketundukan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, tidak kepada yang lainnya.
Dalam kitab Badaa’iul Fawaa’id dalam tema “ Syajaratul Ikhlaash”(Pohon Keikhlasan) , menjelaskan :
“Tahun itu bagaikan sebatang pohon, bulan-bulannya adalah dahan, hari-harinya adalah ranting, jam-jamnya adalah daun, dan nafas detak jantungnya adalah buahnya. Barangsiapa yang waktu-waktunya dihabiskan dalam kemaksiatan maka pohonnya akan berbuah pahit. Hanya saja untuk mengetahui buah mana yang manis atau pahit dapat diketahui pada musim panen ketika semua buah dipetik, yaitu pada hari yang dijanjikan.
Ikhlas dan Tauhid bagaikan sebatang pohon didalam hati manusia, dahannya adalah amal perbuatannya, sedang buahnya adalah kehidupan yang bahagia didunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Sebagaimana pohon yang ada dalam surge yang terus berbuah, tak pernah berhenti, juga tidak terlarang diambil, buah dari pohon tauhid dan ikhlas didunia ini demikian pula; tidak pernah terputus buahnya dan tidak pernah terlarang dicicipi.
Syirik, dusta dan riya’ adala juga pohon didalam hati manusia. Buahnya didunia ini adalah rasa takut, kegelisahan, kesempitan hati, dan gelapnya hati. Sedangkan buahnya diakhirat adalah zaqqum (makanan alhi neraka) dan azab yang kekal. Kedua pohon inilah yang disebutkan Allah didalam Al-Qur’an surat ibrohim ayat 24-27.”
Dalam surat Inrohim ayat 24-27 menjelaskan bahwasanya perbaikan yang harus dilakukan pada diri seseorang adalah dimulai dari perbaikan Tauhid dan diakhiri dengan tauhid dan diantara awal dan akhirnya pun harus dipenuhi dengan tauhid.
Syaikh Mubarak Al Maili –ketua Ikatan Ulama Muslimin aljazair-berkata : “ Seseorang tidak cukup jika hanya menyatakan tauhid dengan dua kalimat syahadat saja, tapi dia juga harus pula menafikan penyembahan kepada banyak illah dan berhukum hanya kepada orang yang diutus oleh Allah saja (yakni Rosulullah saw)”
Pernyataan dari syaikh Mubarak merupakan sebuah pernyataan bahwasanya seseorang belum bisa dikatakan bertauhid sepenuhnya apabila ia hanya bersyahadat dengan lisannya namun ia belum menfikan atau mengingkari perkara syirik yang biasa dilakukan banyak kalangan akhir-akhir ini. Sebagaimana pula sebuah nasehat yang diberikan oleh Luqman kepada anaknya yaitu sebuah wasiat untuk meninggalkan kesyirikan. “ Wahai anakku, janganlah kalian menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13)
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai berbagai macam yang wasiat yang disampaikan oleh seseorang, dimana biasanya sebuah wasiat diberikan pada saat nyawa telah sampai pada kerongkongan yaitu ketika seseorang sedanga mengalami sakaratul maut. Diantara mereka ada yang mewasiatkan kepada istrinya untuk menjaga harta bendanya yang akan ditinggalkannya. Ada yang berwasiat kepada orang yang dicintainya agar kedudukan dan kekuasaannya tetap dipelihara dan dipertahankan. Ada juga yang mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk selalu menjaga hubungan baik terhadap saudara-saudaranya. Akan tetapi, sebaik-baik wasiat seorang hamba adalah wasiat untuk senantiasa beribadah kepada Allah (tauhid), karena itulah wasiat para nabi dan rosul dikala mereka hendak menghadap Allah dan meninggalkan dunia yang fana ini. Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Al-Baqoroh ayat 132-133 :
“Dan Ibrohim telah mewasiatkan itu kepada anak-anaknya; demikian pula Ya’kub. (Ibrohim berkata) : ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk islam.’ Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya : ‘Apakah kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab : ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrohim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah : 132-133)

Diambil dari Kitab Sittu Duror (Landasan Membangun Jalan Selamat)
Karya ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani

Selasa, 06 November 2007

Syair Aqidah Muslim

Jika para pengikut Ahmad disebut sebagai wahabi,
maka aku umumkan bahwa diriku adalah wahabi.

Aku tiadakan sekutu bagi Tuhan,
sehingga tidak ada Tuhan yang layak disembah bagiku selain Tuhan yang Maha Esa dan Maha Pemberi.

Tidak ada satu kubahpun yang bisa diharap,
tidak pula berhala, dan kuburan pun tidaklah menjadi salah satu sebab diantara sekian banyak sebab.

Sama sekali tidak.
Tidak pula batu, pohon, mata air atau patung-patung.
Aku juga tidak mengalungkan jimat, tali, rumah kerang atau taring, untuk mengharapkan manfaat dan menolak bala.
Allahlah semata yang memberiku manfaat atau menolak bala dariku.

Adapun bid'ah-bid'ah dan segala perkara yang diada-adakan dalam agama, maka orang yang berakal pasti mengingkarinya.
Aku berharap, semoga aku tidak mendekati semua itu dan tidak mengambilnya sebagai agama bagiku, karena itu adalah tidak benar.

Dan aku berlindung dari Jahmiyah*.
Aku cela para ahli takwil dan oran yang ragu-ragu, serta yang mengingkari istiwa'.
Cukuplah bagiku dalam masalah-masalah tersebut, perkataan para imam yang mulia ;
Syafi'i, Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal;
orang-orang yang bertaqwa dan suka bertaubat.
Dizaman kita ini, ada orang keras dengan keyakinannya,seraya berteriak menuduhnya sebagai Mujassim** Wahabi**.

Ada hadits tentang keterasingan islam.
Maka, hendaknya menangislah orang-orang yang cinta, karena terasingnya orang-orang yang dicintai.
Allahlah yang melindungi kita, dan yang menjaga agama kita, dari kejahatan setiap pendurhaka lagi tukang cela.
Dia mengokohkan agamanya yang suci,
Dengan sekelompok orang yang berpegang teguh kepada sunah Nabi dan kitab-Nya.
Mereka tidak mau berhukum dengan pikiran mereka dan kias-kias.
Mereka hanya mau merujuk kepada ahli wahyu, sebaik-baik tempat merujuk,
sang Nabi pilihan itu telah mengabarkan tentang mereka,
bahwa mereka adalah orang-orang yang terasing,
ditengah keluarga dan teman sejawatnya.
Mereka berjalan di atas jalan mereka yang benar.
Orang-orang yang suka berlebih-lebihan dengan agam,a menjauh dari mereka.

Akan tetapi, kita berkata, tidak aneh.
Karena, telah menjauh pula orang yang diseru oleh sebaik-baik manusia, bahkan mereka menjuluki beliau sebagai tukang sihir lagi pembohong.
Padahal mereka tahu betapa beliau seorang yang teguh memegang amanah dan janji, mulia lagi suka berkata benar.
Semoga Allah melimpahkan sholawat untuk beliau, selama angin masih berhembus, juga untuk segenap keluarga dan para sahabat beliau.

Karya : Mulla Umran
Diambil dari kitab Firqotun Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Catatan :
** Jahmiyah : Golongan sesat yang mengingkari bahwa Allah berada di langit dan berpendapat bahwa Allah berada dimana-mana.
** Mujassim : Orang yang memvisualisasikan sifat-sifat Allah. Mereka menuduh imam Ahmad bin Hambal sebagai orang mujassim dan Wahabi. Tuduhan sebagai Mujassim tidak benar; begitu pula tuduhan sebagai wahabi. Bagaimana mungkin dia dituduh sebagai wahabi, sedangkan beliau hidup ratusan tahun sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Mulla Umran adalah seorang penyair. Dahulu dia adalah seorang penganut agama Syi'ah. Kemudian Allah memberi hidayah kepadanya sehingga diapun masuk ke dalan barisan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.


Minggu, 04 November 2007

Berpegang Dengan As Sunnah Dan Al Jama'ah

Di dalam bergama, Islam menghendaki agar umatnya mempunyai kejelasan dan kepastian ilmiah. Karena itu Islam melarang umatnya untuk mengikuti suatu perkara tanpa didasari kepastian ilmiah:

“Dan janganlah mengikuti apa-apa yang kamu tidak tahu. Sesungguhnya pendengaran dan pengelihatan dan akal pikiran, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra': 36)

Islam juga membimbing umatnya agar berusaha mendapatkan kepastian ilmiah dengan menanyakan berbagai permasalahan itu kepada ahlinya:
“Maka bertanyalah kalian kepada para ahlinya bila kalian tidak mengerti tentang berbagai keterangan dan kitab-kitab terdahulu. Dan Kami telah menurunkan kepadamu (hai Muhammad) Al-Qur'an agar engkau menerangkan kepada sekalian manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. Semoga dengan itu mereka mau berfikir tentang kebenaran itu.” (An-Nahl: 43 – 44)

Bahkan Islam menyatakan bahwa orang yang paling takut kepada Allah adalah orang yang paling berilmu tentang agama ini:
“Hanyalah orang yang takut kepada Allah itu dari hamba-hamba-Nya adalah para ulama (yakni ahli ilmu syariat Allah). Sesungguhnya Allah itu Maha Agung dan Maha Pengampun.” (Fathir: 28)

Oleh karena itu orang yang paling tinggi derajatnya dalam Islam adalah orang yang paling berilmu tentang agama ini.
“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dari kalian dan orang-orang yang berilmu tentang agama ini dengan beberapa derajat. Dan Allah Maha Tahu dengan apa yang kalian lakukan.” (Al-Mujadalah: 11)

Juga Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, niscaya Allah jadikan dia paham terhadap agama-Nya.” (HR. Bukhari dalam Shahihnya Kitabul Ilmi bab Man Yuridillahu Khairan Yufaqqihhu fid Dien dari Muawiyah bin Abi Sufyan hadits ke 71)

Dalam menerangkan hadits ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan: “Konsekwensinya ialah bahwa barangsiapa yang tidak Allah jadikan dia mengerti tentang agama-Nya, maka berarti Dia tidak menghendaki kebaikan pada orang itu, sehingga karena itulah upaya untuk memahami agama ini adalah wajib. Sedangkan pengertian memahami agama itu ialah: Memahami hukum-hukum syariah dengan dalil-dalilnya. Maka barangsiapa yang tidak mengerti tentang hal ini, maka dia dikatakan tidak mengerti tentang agama.” (Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah jilid 20 hal. 212)
Demikianlah sikap beragama yang dituntunkan oleh Islam, yaitu sikap ilmiah dan tidak ikut-ikutan serta sangat menjunjung tinggi kemestian menuntut ilmu tentang agama ini sebagai kewajiban agama yang sebanding dengan kewajiban lainnya dalam bidang i'tiqad (keyakinan) atau pun bidang ibadah dan berbagai bidang lainnya. Dalam Islam juga sangat dicela sikap asal bicara dalam perkara agama, bahkan sebagian ulama menganggap bahwa sikap demikian ini lebih besar dosanya daripada syirik (yakni menyekutukan Allah dengan yang lainnya). Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

“Katakanlah: Sesungguhnya yang diharamkan oleh Tuhan hanyalah perbuatan keji yang tampak maupun tersembunyi dan dosa besar, serta perbuatan dhalim yaitu mengambil hak orang lain dengan cara tidak benar, dan menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya yang Allah tidak turunkan baginya alasan pembenarannya, dan juga yang Allah larang adalah kalian berbicara tentang agama Allah dengan apa yang kalian tidak mengerti tentangnya.” (Al-A'raf: 33)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menerangkan: “Dan sungguh Allah telah mengharamkan untuk berbicara tentang agama-Nya tanpa ilmu, baik dalam fatwa maupun dalam pemutusan perkara di pengadilan agama, dan Allah telah menjadikan perbuatan demikian sebagai perbuatan haram yang paling besar. Bahkan Allah jadikan sebagai perbuatan haram di tingkat yang paling tinggi sebagaimana firman-Nya (kemudian beliau menukilkan surat Al-A'raf 33 ini). Maka di ayat ini Allah sebutkan tingkatan-tingkatan keharaman ada empat. Dia sebutkan perbuatan haram yang paling ringan yaitu kekejian, kemudian tingkatan kedua ialah dosa dan dhalim yang lebih keras pengharamannya dari kekejian tersebut. Kemudian setelah itu tingkatan ketiga yang lebih besar keharamannya yaitu syirik (menyekutukan Allah) dengan lainnya. Kemudian tingkatan keempat yang merupakan tingkatan keharaman yang keras lebih dari semua yang disebut sebelumnya yaitu berbicara tentang agama Allah dengan tanpa ilmu yang meliputi pembicaraan tentang nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-perbuatan-Nya dan tentang agama-Nya serta syariat-Nya tanpa landasan ilmu.” (I`lamul Muwaqqi`in `an Rabbil `Alamin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, jilid 1 hal. 38)
Dengan demikian, Islam tidak pernah memberi kesempatan kepada orang yang jahil tentang agama ini untuk berbicara tentang agama Allah Ta`ala. Apalagi untuk membawa bendera dakwah Islamiyah, tentu yang demikian ini lebih tidak pantas lagi. Allah Ta`ala mengajari Rasul-Nya untuk menyeru dan mengajari manusia kepada agama-Nya dengan cara ilmiah, yakni berbekal ilmu yang cukup tentang apa yang akan diucapkan dan apa yang akan dilakukan.

“Katakanlah: Sesungguhnya inilah jalanku, aku berdakwah (menyeru manusia) kepada agama Allah di atas ilmu. Yang menjalankan demikian adalah aku dan orang-orang yang mengikuti jejakku. Dan Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik (yakni tidak termasuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lainnya).” (Yusuf: 108)

Allah juga memerintahkan Rasul-Nya untuk mendebat orang-orang Yahudi dan Nashara dengan cara ilmiah dan dilengkapi dengan sikap seorang intelektual, bukan orang pasaran yang mengandalkan kemampuan caci-maki dan kekuatan fisik.

“Dan janganlah kalian mendebat Ahli Kitab kecuali dengan cara yang baik (yaitu dengan secara ilmiah dan sopan santun). Kecuali terhadap orang-orang yang dhalim dari mereka (yaitu mereka yang tidak bisa diajak bicara kecuali dengan bahasa perang). Dan katakanlah kepada mereka: Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami (yakni Al-Qur'an) dan beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada kalian (yakni taurat dan Injil). Dan sesembahan kami sama dengan sesembahan kalian (yaitu Allah Ta`ala) dan kami tunduk berserah diri kepada-Nya.” (Al-Ankabut: 46)

Maka lengkaplah sikap ilmiah dalam beragama sebagaimana yang diajarkan oleh Islam kepada umatnya sehingga kewajiban menuntut ilmu agama ini adalah perkara pokok dalam berislam. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

“Menuntut ilmu agama ini adalah wajib atas setiap Muslim (pria maupun wanita).” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi dan selain keduanya)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah memberi catatan terhadap hadits ini: “Ketahuilah bahwa Al-Imam As-Suyuthi telah mengumpulkan sanad hadits ini yang mencapai lima puluh sanad dan beliau menghukumi hadits ini sebagai hadits yang shahih karenanya. Al-Iraqi juga menshahihkan hadits ini dengan mengambil keterangan dari sebagian imam-imam Ahli Hadits dan mereka menghasankan hadits ini. Wallahu a`lam.” (Misykatul Mashabih jilid 1 hal. 76)
Sehingga akan dianggap berdosa dan maksiat orang Islam yang tidak menyempatkan diri untuk menunaikan kewajiban menuntut ilmu tentang agama Allah ini.

AS-SUNNAH DAN AL-JAMAAH
Setelah kita mengetahui betapa pentingnya keharusan menuntut ilmu agama dalam berislam, maka kita perlu mengerti tentang pokok ilmu agama agar lebih fokus lagi upaya kita dalam memahami agama ini secara ilmiah. Pokok ilmu agama itu ialah As-Sunnah dan Al-Jamaah karena Islam itu bukanlah agama produk akal seseorang atau sekelompok orang, dan bukan pula budaya suatu bangsa tertentu. Akan tetapi ia adalah agama yang datang dari Allah dengan wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Allah Ta`ala menegaskan:

“Agama ini bukanlah produk pikiran kalian dan bukan pula produk pikiran Ahli Kitab.” (An-Nisa': 123)

Allah Ta`ala juga menegaskan bahwa agama yang diajarkan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam bukanlah hasil pikiran beliau dan bukan pula selera beliau. Akan tetapi semua itu adalah wahyu yang Allah turunkan dari-Nya kepada beliau:

“Dan tidaklah Rasul itu berbicara dari hawa nafsunya. Dia berbicara tentang agama hanyalah dari wahyu yang Allah wahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3 - 4)

Allah Ta`ala lebih memastikan lagi bahwa Muhammad sebagai Rasul-Nya tidak mungkin sama sekali berbicara tentang agama-Nya ini dari produk pikirannya, menyimpang dari wahyu yang diwahyukan kepadanya:

“Dan seandainya Rasul ini memalsukan omongan atas nama Kami Allah, niscaya Kami akan sambar dia dengan tangan kanan Kami, kemudian Kami akan putuskan urat lehernya. Sehingga tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat membela dia.” (Al-Haaqah: 44 – 47)

Dengan demikian, pasti yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam adalah agama Allah. Karena itulah Allah memerintahkan kita mentaati-Nya dengan cara mentaati Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:

“Barangsiapa mentaati Rasul ini, maka sungguh dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa berpaling darimu, maka sungguh Kami tidaklah mengutus engkau hai Muhammad sebagai penjaga terhadap mereka.” (An-Nisa': 80)

Maka dengan penuh keyakinan kita membenarkan berita Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, ketika beliau menegaskan:

“Barangsiapa beramal dengan agama ini dengan tanpa perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihnya dari Aisyah radliyallahu `anha).

Juga Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menegaskan perkara yang kita imani pula kebenarannya:

“Barangsiapa yang masih tetap hidup dari kalian sepeninggal aku, maka sungguh dia akan melihat perselisihan yang keras. Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa'ur rasyidin, gigitlah sunnah para khalifah itu dengan gigi gerahammu.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam kitab As-Sunnah hadits ke 55).

Berpegang dengan sunnah Nabi dalam suasana perselisihan yang dahsyat di antara umat Islam adalah jaminan keselamatan. Oleh karena itu perlu kita mengerti apa itu sunnah Nabi. Untuk menjawab pertanyaan ini kiranya tepat bila kami nukilkan penjelasan dari Imam Ahlul hadits dari kalangan tabi`in yang bernama Mak-hul rahimahullah. Beliau mengatakan:
“As-Sunah itu ada dua macam, yaitu sunnah yang wajib kita berpegang dengannya dan meninggalkannya adalah kufur, (yang kedua) adalah sunnah yang bila mengerjakannya mendapat keutamaan dan meninggalkannya tidak berdosa.” (Asy-Syari'ah, Al-Imam Al-Ajurri, jilid 1 hal. 424 riwayat ke 108)
Maka sunnah yang wajib kita berpegang dengannya dan meninggalkannya berdosa, pengertiannya ialah ajaran-ajaran Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Adapun untuk kita berpegang teguh dengan sunnah Nabi, haruslah kita mempelajarinya yang mengantarkan kita kepada keyakinan yang kuat bahwa kita mengikuti sunnah Nabi.
Lawan dari sunnah ialah bid'ah yang artinya ialah segala bentuk penyimpangan dari sunnah Nabi. Dengan mempelajari sunnah, kita akan dapat memahami Al-Qur'an dengan benar dan mengamalkannya dengan benar pula. Maka orang-orang yang mempelajari sunnah Nabi dan mengamalkannya serta berpegang dengannya dinamakan Ahlus Sunnah. Sedangkan orang yang menyimpang dari sunnah Nabi dan berpegang dengan bid'ah dinamakan Ahlul Bid'ah. Kalau pun sunnah itu lawannya adalah bid'ah, maka demikian pula Ahlus Sunnah itu lawannya ialah Ahlul Bid'ah.
Kemudian sunnah khulafa'ur rasyidin yang kita juga wajib berpegang dengannya ialah pemahaman mereka kepada sunnah Nabi. Dan inilah yang dikatakan Al-Jamaah. Mereka adalah para shahabat Nabi yang agung dan diikuti oleh para shahabat Nabi yang lainnya dalam mengamalkan segenap sunnah Nabi. Oleh karena itu berpegang dengan Al-Jamaah maknanya ialah merujuk kepada pemahaman para khulafa'ur rasyidin terhadap sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam.

SIAPAKAH AL-KHULAFA'UR RASYIDIN ITU?
Dari sisi bahasa, makna khulafa'ur rasyidin ialah para khalifah atau dalam makna lain adalah para penguasa. Ar-Rasyidin artinya ialah yang terbimbing di jalan Allah Ta`ala dan diistilahkan pula dengan al-mahdiyyun, yakni yang mendapatkan petunjuk dari Allah Ta`ala. Jadi al-khulafa'ur rasyidin itu pengertiannya ialah para penguasa yang terbimbing di jalan Allah dan menjalankan kekuasaan dengan bimbingan syariat Allah.
Al-Imam Abul Ali Al-Mubarakfuri di dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan: “Mereka para khulafa'ur rasyidin itu beramal dengan sunnah Nabi dan mengambil kesimpulan hukum daripadanya dan memilih sunnah itu untuk keputusannya. Demikian dinyatakan oleh Al-Qari.” (Tuhfatul Ahwadzi, jilid 7 hal. 440).
Adapun tentang siapakah al-khulafa'ur rasyidin itu, untuk menjawabnya cukup dengan berita dari sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:

Khilafah kenabian itu berjalan selama tigapuluh tahun, kemudian Allah datangkan penguasa yang bernama raja atau raja-Nya, siapa yang dikehendaki-Nya jadi raja.” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya dari Safinah hadits ke 4646 dan diriwayatkan pula oleh yang lainya dari Safinah juga).

Lebih jelas lagi tentang siapakah yang dimaksud Nabi dalam sabdanya tersebut dengan istilah “khilafah kenabian”, Safinah yang mendengar langsung sabda Nabi itu menjelaskan kepada Said bin Jamhan: “Camkan benar olehmu, Abu Bakar memerintah dua tahun, Umar memerintah sepuluh tahun, Utsman dua belas tahun, dan Ali selama enam tahun.”
Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menerangkan panjang lebar tentang keshahihan hadits ini dan membantah segala keraguan tentang keshahihannya dalam kitab beliau Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah jilid 1 bagian kedua hal. 820 – 827 hadits ke 459)

MEMAHAMI AL-QUR'AN DENGAN AS-SUNNAH DAN AL-JAMAAH
Telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bahwa di suatu masa tertentu akan muncul di umatnya satu kecenderungan sesat, yaitu dalam berislam hanya mau menerima Al-Qur'an dan mengingkari selainnya. Beliau menegaskan:

“Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Kitab dan yang semisalnya. Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al-Qur'an dan yang semisalnya. Ketahuilah pula bahwa sesungguhnya sangat dikuatirkan akan munculnya orang yang kenyang perutnya duduk di singgasananya sambil berkata: “Wajib kalian berpegang dengan Al-Qur'an ini saja. Maka apa yang kalian dapati padanya perkara halal, maka halalkanlah, dan yang kalian dapati padanya haram, maka haramkanlah.” Kemudian disebutkan hadits selanjutnya.” (HR. Al-Ajurri dalam kitab As-Syari'ah jilid 1 hal. 415 – 416 hadits ke 97 dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib Al-Kindi)

Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahari rahimahullah menegaskan: “Dan apabila engkau mendengar ada seorang yang dibawakan padanya hadits Nabi kemudian dia tidak menginginkannya, dan yang ia inginkan hanyalah Al-Qur'an, maka tidak ada keraguan bahwa orang yang demikian ini pada hatinya ada keingkaran terhadap Islam. Maka berdirilah engkau dari sisinya dan tinggalkan dia.” (Syarhus Sunnah, Al-Barbahari hal. 119 riwayat ke 145)
Demikianlah salah satu model kesesatan yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang tumbuh menjamur di kalangan umat Islam. Dalam hal ini beliau memperingatkan pula dengan peringatan yang lebih umum tentang adanya berbagai penyimpangan dan kesesatan pada umatnya dan beliau memberi bimbingan pula agar mereka berpegang teguh dengan Al-Jamaah dalam suasana banyaknya kesesatan itu:

“Sesungguhnya Ahli Kitab telah berpecah menjadi tujupuluh dua aliran, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujupuluh tiga golongan (yakni golongan karena mengikuti selera hawa nafsu masing-masing). Semuanya di neraka kecuali hanya satu golongan saja yang selamat dari api neraka itu, ialah yang berpegang dengan al-jamaah.” Selanjutnya beliau mengatakan: “Sesungguhnya akan keluar di umatku suatu kaum yang menjalar pada diri mereka hawa nafsu seperti menjalarnya virus rabies pada tubuh orang yang terkena penyakit tersebut yang tidak ada satu urat pun dan tidak ada satu ruas tubuh pun kecuali dimasuki oleh penyakit tersebut.” (HR. Al-Lalikai dalam Syarhus Sunnah karya beliau hadits ke 150 dari Muawiyah bin Abi Sufyan radliyallahu `anhuma).

Orang-orang yang menjalar pada dirinya hawa nafsu yakni dia didominasi total oleh hawa nafsu itu sehingga pikiran, pemahamannya, tingkah laku dan akhlaknya dikendalikan sepenuhnya oleh hawa nafsunya. Tentu yang dinamakan hawa nafsu itu tidak lain selalu menyeru kepada kejelekan dan penyimpangan. Allah Ta`ala berfirman:
(ayat)
“Sesungguhnya hawa nafsu selalu menyeru kepada kejelekan.” (Yusuf: 53)

Keadaan orang-orang yang demikian inilah yang diberitakan oleh Allah dalam Al-Qur'an:

“Tidakkah engkau melihat keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan yang sangat ditaati dan Allah sesatkan orang yang demikian ini di atas ilmu (yakni dia sesat dalam keadaan mengerti bahwa jalan tersebut adalah menyimpang dari kebenaran) dan Allah tutup pendengarannya (sehingga tidak bermanfaat baginya mendengar nasehat yang mengajak dia untuk kembali kepada kebenaran) dan juga Allah tutup hatinya dan pengelihatannya dengan tabir penutup. Maka siapa lagi yang akan menunjukki orang yang telah Allah sesatkan? Tidakkah kalian mau ingat.” (Al-Jatsiyah: 23)

Maka untuk selamat dari bahaya kesesatan yang demikian ini hanyalah dengan berpegang dengan Al-Jamaah. Sedangkan yang tidak berpegang dengannya akan larut dalam perpecahan sesama Muslimin karena terseret oleh hawa nafsunya masing-masing. Dan untuk lebih menyakinkan lagi bahwa pengertian berpegang dengan Al-Jamaah itu ialah dengan merujuk kepada pemahaman shahabat Nabi, maka berikut ini kami bawakan riwayat sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam yang menerangkan demikian:

“Sungguh-sungguh akan datang pada umatku keadaan yang pernah datang kepada Bani Israil seperti pasangan sandal satu dengan lainnya (yakni keadaannya persis sama), dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi tujupuluh dua aliran agama dan umatku akan terpecah menjadi tujupuluh tiga golongan. Semuanya di neraka kecuali satu golongan aliran pemahaman saja yang selamat dari neraka.” Para shahabat bertanya kepada Nabi: “Siapakah golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu golongan yang berjalan pada apa yang aku dan para shahabatku jalani.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dan yang lain-lainnya)

Jadi jelas dan tegas dengan riwayat ini bahwa berpegang dengan Al-Jamaah sebagaimana yang diberitakan dalam riwayat Muawiyah bin Abi Sufyan, pengertiannya ialah merujuk kepada jalan hidupnya Rasulullah (as-sunnah) dan para shahabat beliau (al-jamaah), sebagaimana yang diberitakan dalam riwayat Abdullah bin Amr tersebut di atas. Para shahabat Nabi itu dipimpin oleh para khulafaur rasyidin sepeninggal Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Demikianlah mestinya rujukan pemahaman yang benar dalam upaya memahami Al-Qur'an, yaitu As-Sunnah dan Al-Jamaah. Sedangkan tanda kesesatan itu adalah bila seseorang menafsirkan Al-Qur'an dengan selain keduanya. Umar bin Al-Khattab radliyallahu `anhu menasehatkan:

“Akan datang satu kaum yang mendebat kalian dengan kesamar-samaran yang terdapat di sebagian ayat Al-Qur'an, maka bantahlah mereka dengan as-sunnah (yaitu sunnah Nabi dan sunnah khulafa'ur rasyidin) karena sesungguhnya orang-orang yang berilmu tentang as-sunnah lebih mengerti tentang kitab Allah (yakni Al-Qur'an).” (HR. Ibnu Baththah Al-Ukhbari dalam Al-Ibanah Al-Kubra riwayat ke 83).

Maka orang yang berpegang dengan As-Sunnah dan Al-Jamaah dalam menafsirkan Al-Qur'an dinamakan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sedangkan mereka yang selalu memusuhi Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah Ahlul Bid'ah wal Firqah. Karena lawan daripada Al-Jamaah ialah Al-Firqah (maknanya ialah orang yang berpisah dari al-jamaah atau tidak mau berpegang dengan al-jamaah).

PENUTUP
Beragama di dalam Islam adalah dalam rangka menyatakan ketundukan total kepada Allah Ta`ala agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, beragama bukanlah mengikuti selera pribadi atau selera seseorang atau selera satu masyarakat, akan tetapi beragama itu hanya mengikuti kemauan Allah Ta`ala semata walau pun kadang-kadang ketentuan agama itu tidak kita sukai. Tetapi dalam rangka berislam, kita tetap tunduk kepada ketentuan agama dan mengalahkan ketidaksukaan demi mendapatkan rahmat dan barakah Allah dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Kadang pula ketentuan agama itu tidak bisa dinalar oleh logika kita. Tetapi karena agama ini bukanlah produk logika, maka dalam rangka berislam, kita tundukkan logika kita kepada ketentuan agama itu demi keselamatan dunia dan akhirat. Agama harus menjadi hakim terhadap akal dan perasaan kita, dan jangan sampai justru akal dan perasaan itu yang menghakimi agama. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita dalam beragama untuk merujuk kepada As-Sunnah dan Al-Jamaah. Karena hanya dengan cara demikian, kita akan selamat dari sikap pembangkangan terhadap agama, hanya karena lebih mengutamakan akal dan perasaan daripada ketentuan agama itu sendiri


Al Ustadz Ja'far Umar Thalib

Semoga Artikel ini bermanfaat untuk semuanya.
Diambil dari Alghuroba.org